Saturday, January 17, 2009

Fantasi

Siang itu saya menjemput Khalisha yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak. Dengan wajah gembira dia menyambut kedatangan saya dan mengajak saya segera ke papan galery yang berada di depan kelasnya. ‘’ Mama, lihat pohon Apel yang Khalisha buat, bagus ya …’’, ungkapnya dengan penuh kebanggaan. Saya yang melihat gambar itu sedikit tertegun, dan kemudian sifat perfeksionis saya yang kental pun dengan segera mengomentari hasil karyanya itu. ‘’Bagus sekali nak, tapi kok warna daun pohon Apelnya ungu, dan batangnya berwarna merah muda?. Setiap pohon kan daunnya hijau dan batangnya agak kecoklatan. Coba deh Khalisha lihat di luar sana’’, ungkap saya.
Si bungsu yang baru berumur 4 tahun itu pun dengan wajah polosnya menjawab,’’ Itu kan fantasi Mama, saya boleh mewarnai pohon semau saya karena saya punya fantasi..’’

***

Setelah menjemput Khalisha, kami pun melaju menjemput Azizia sang kakak yang sudah sekolah di kelas 3 SD. Begitu Azizia masuk mobil, Khalisha ‘mengadu’ ke sang Kakak. ‘’Kak, masak Mama tidak tahu apa itu fantasi Kak...’’, adunya ke sang Kakak. ‘’Kenapa memangnya?’’, tanya sang Kakak. ‘’Iya tadi Khalisha kasih tahu gambar Khalisha pohon apel yang berbuah, daunnya berwarna ungu, serta batangnya berwarna pink, kata Mama kalau daun harus berwarna hijau. Kan bisa daun pohon apel warnanya ungu ya Kak...’’ , kembali si bungsu mengadu ke Kakaknya.
‘’Memang iya begitu Ma?, tanya si Sulung sambil menoleh ke saya menuntut penjelasan. ’’Iya nak, betul kan kalau menggambar daun harus berwarna hijau, lihat deh pohon apel di pinggir-pinggir jalan itu, pasti daunnya berwarna hijau’’, jawab saya dengan penuh percaya diri.
‘’Ma, kalau gambar kan tidak harus selalu sama. Kalau harus sama terus membosankan Ma’’, sanggah Azizia mendukung pendapat adiknya. ‘’Lihat deh Mama gambar-gambar Otmar Alt, Kandinsky, Paul Klee penuh fantasi dan tidak membosankan’’, jelas sulungku yang memang sangat antusias sekali terhadap dunia seni lukis. ‘’Kakak juga senang gambar fantasi, kuda yang ada sayapnya berwarna biru dan bisa terbang, ikan Delfine yang ada mahkotanya dan pakai lipstik merah tebal, wah... asyik sekali gambar kita tidak ada yang samain....’’, ungkap sang kakak dengan penuh semangat.

***

Fantasi, sebuah kata yang hari itu menjadi tema dalam percakapan saya dengan anak-anak, membuat saya pun termenung dan berpikir. Tanpa kita sadari terkadang dunia anak-anak yang penuh fantasi sering diganggu oleh perfeksionisme kita para orangtua. Ketika anak-anak menggambar corat-coret yang sesuai dengan imajinasinya banyak orang tua yang memprotesnya, bahkan tidak sedikit orangtua yang mengomentari dengan kata-kata yang cukup pedas..’’Gambarnya seperti benang kusut...apa artinya tuh?; Kok rumahnya besar pintunya kecil sekali seperti lubang tikus, itu tidak bagus!; Masak sepeda ada sayap?...ada-ada saja; Dan masih banyak lagi komentar-komentar orangtua yang sering membuat anak menjadi berkecil hati, merasa bersalah atas fantasi yang mereka miliki.

Banyak orang tua melihat dunia ini dengan persepsi yang dimilikinya saja, dan repotnya, kita sebagai orang tua sering merasa bahwa persepsi kitalah yang paling benar. Ketika orang tua melihat hasil karya anak, tidak sedikit orang tua yang memandang dengan persepsi orang dewasa, akibatnya bukan mendukung fantasi anak kita malahmencela. Padahal fantasi ini memberi warna-warni tersendiri dalam kehidupan ini.

Fantasi dalam dunia anak-anak adalah sebuah proses belajar dan pengembangan otak mereka untuk berimajinasi dan berkreasi; mengeluarkan berbagai ide yang ada di kepalanya. Dapat dibayangkan bagaimana dulu Orville Wright dan saudaranya Wilbur Wright berfantasi untuk bisa terbang dan akhirnya bisa menciptakan pesawat terbang, Rudolf Diesel berfantasi dengan mesin yang akhirnya bisa menjadi penemu Diesel, dan masih banyak fantasi hebat lainnya yang ternyata membuahkan berbagai gagasan cemerlang , gagasan yang mempermudah hidup kita di zaman modern.
Bayangkan jika semua harus sesuai dengan aturan dan orang dilarang keras untuk berfantasi. Apa jadinya dunia ini?

Jika kita sedikit saja mencoba melihat karya anak dari kacamata mereka, kita akan hanyut dalam sebuah dunia indah tidak terbatas. Kombinasi warna hasil corat-coret anak ternyata mempunyai daya pikat tersendiri. Lihat saja karya-karya Affandi, sang Maestro yang berhasil mempesona dunia dengan goresan abstraknya.

Hasil karya sederhana anak menggambarkan betapa beningnya dunia mereka. Pikiran si kecil penuh dengan ide-ide segar yang mungkin luput dari pemikiran orang dewasa. Belum lagi permainan yang sarat imajinasi. Ada-ada saja akal mereka. Boneka beruang kesayangannya bisa menjadi murid yang patuh, sementara si kecil berperan sebagai seorang guru. Atau boneka itu menjadi pasien yang batuk pilek, selagi anak membayangkan dirinya menjadi seorang dokter.

Sofa di ruang tengah dapat menjadi kapal pesiar mereka, keranjang pakaian di dalam kamar dapat menjadi kotak harta karun mereka, kolong dibawah tempat tidur dapat menjadi gua persembunyian mereka berpetualang, panci di dapur dapat menjadi alat musik favorit mereka. Begitu luasnya mereka menjelajah, seakan keempat dinding rumah yang kokoh pun tidak mampu membatasinya.

Dunia anak memang tidak pernah sepi dengan fantasi. Dengan berfantasi anak melatih daya pikir. Dan ketika mereka melakukan sesuatu yang berbed, itulah yang disebut kreativitas.

Saya baru sadar, apa yang dilakukan Khalisha, mengganti warna daun dengan warna ungu, adalah sebuah bentuk kreativitas. Inilah buah dari fantasinya.
Saya jadi malu. Ah..saya rasa tiba saatnya saya sebagai orangtua belajar untuk memahami sekaligus menghargai fantasi anak. Mengapa pula saya harus menuntut kesempurnaan dari mereka?

Munich, Sept. 2008
Chairinniza K. Graha
Penulis.

Dimuat di Majalah Parenting Indonesia
Edisi Januari 2009.

Thursday, December 25, 2008

Berganti Tahun Kembali...

Sebentar lagi tahun berganti, tidak terasa waktu berlalu dengan cepat.

Si kecil yang dulu selalu ditimang sekarang sudah tidak lagi mau di timang...
Para ibu yang dulu mengeluh karena anaknya selalu merengek, sangat tergantung pada ibunya dan merasa tidak ada waktu untuk dirinya sendiri, kini berubah pula...
merasa kesepian, anak-anak semakin besar dan merindukan masa-masa menimang dahulu...

Itulah kehidupan, semua bergerak dan berubah.

Mungkin kehidupan saat ini dengan anak-anak yang masih kecil membuat para ibu sangat sibuk dan merasa tidak bisa bergerak bebas, tidak sedikit para ibu yang mengeluh dan putus asa. Sebuah perasaan yang manusiawi dan wajar.

Kehidupan dengan anak-anak adalah sebuah pelajaran waktu, dimana waktu itu tidak akan berputar mundur kembali. Anak-anak akan terus tumbuh dan berkembang dan tidak menjadi anak kecil terus....

Para Ibu akan merasa kehilangan akan masa-masa menimang itu...dan merindukannya kembali.

Mungkin ini sebuah pelajaran kepada para ibu untuk menikmati setiap waktu yang ada dan juga akan perannya dalam kehidupan dengan anak-anak.
Menikmati masa-masa yang penuh pelajaran bersama anak-anak.
Menikmati pertumbuhan anak.
Menikmati masa-masa yang penuh kegelisahan dan juga penuh keceriaan degan anak-anak.
Menikmati kehidupan ini dengan anak-anak.

Masa yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, masa yang akan datang akan terus mendekati dan akhirnya dilewati....

Sebuah pelajaran dalam waktu,
untuk memanfaatkan waktu yang ada yang tidak mungkin berputar mundur.


Munich, Dec 2008 (CnzG)

Friday, June 20, 2008

Demam UEFA EURO 2008


Belakangan berita UEFA EURO 2008 semakin menghangat, babak penyisihan terus berlanjut untuk kemudian ke babak semifinal dan final. Demam UEFA EURO ini sangat terasa sekali di tempat kami, bukan hanya fans dan penggemar bola saja yang heboh, semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi menyemarakkan acara satu ini. Bendera berbagai pendukung negara peserta selalu hilir mudik terlihat di setiap mobil yang berlalu lalang di Munich ini. Tidak sedikit penggemar tim peserta UEFA itu yang menaikan bendera negara timnya di rumah mereka.. Berwarna-warni bendera mudah kami temui saat ini. Supermarket, tukang roti, sampai dengan taman kanak-kanak pun terbawa demam EUFA EURO ini.

Setiap hari ada saja celoteh dari Khalisha tentang tim yang akan bertanding. Azizia pun tidak kalah serunya setiap hari menunggu pertandingan itu dimulai. Belum lagi sang ayah yang juga sangat menikmati pertandingan ini. Menonton bola itu seru sekali! terlebih bila tim yang bermain itu berimbang. Kelincahan pemain mempertahankan bola untuk mencapai gol dan strateginya menyerang atau pun mempertahankan diri sungguh mempesona. Tendangan-tendangan yang berusaha menggolkan ke lawan bertubi-tubi membuat penonton penasaran. Trik-trik dan kecurangan-kecurangan yang terjadi untuk mendapatkan bola membuat kita geregetan. Menonton pertandingan bola itu benar-benar asyik! Saya pun terkena demam sepakbola :-)

Sunday, June 15, 2008

Wild World

By: Cat Stevens

1. Now that I've lost everything to you
You say you want to start something new
And it's breaking my heart you're leaving, baby I'm grieving
But if you want to leave take good care
Hope you have a lot of nice things to wear
But then a lot of nice things turn bad out there

Ref.: Oh, baby, baby it's a wild world
It's hard to get by just upon a smile
Oh, baby, baby it's a wild world
I'll always remember you like a child, girl

2. You know I've seen a lot of what the world can do
And it's breaking my heart in two
'Cos I never want to see you sad girl. don't be a bad girl
But if you want to leave take good care
Hope you make a lot of nice friends out there
But just remember there's a lot of bad and beware

Ref.: Oh, baby,baby ...

3. (Instrumental)
(Instrumental)
(Instrumental) , Baby I love you
But if you want to leave take good care
Hope you make a lot of nice friends out there
But just remember there's a lot of bad and beware

Ref.: Oh, baby, baby ... (2x)

Tuesday, June 03, 2008

Bermain layang-layang


Udara mulai semakin bersahabat untuk bermain di luar rumah, dan lebih mengasyikan lagi sambil bermain layang-layang.Walaupun ini musim semi, bukan musim gugur yang memang banyak anginnya, bermain layang-layang pun dapat dilakukan oleh anak-anak. Usaha untuk menaikkan layang-layang yang dilakukan mereka sungguh menarik.

Mereka berlari agar layang-layang dapat terbang tinggi, tidak jarang layang-layang mereka beradu dan terbelit satu sama lainnya. Ketika layang-layang sudah terbang tinggi dengan stabil, betapa senangnya mereka.

Foto-foto yang lain bisa liat disini....

Tuesday, April 22, 2008

Kartini

Hari ini adalah hari Kartini. Hari yang selalu diperingati sebagai lambang kebangkitan emansipasi kaum perempuan di Indonesia. Peran Kartini cukup besar dalam membantu pergerakan kemajuan perempuan Indonesia, demikian juga peran pahlawan-pahlawan nasional perempuan lainnya dalam sejarah Indonesia.

Dari waktu ke waktu peringatan hari Kartini selalu ditandai dengan pakaian daerah yang dikenakan oleh para perempuan. Waktu saya kecil dahulu saya ingat di sekolah kita para perempuan diwajibkan mengenakan pakaian daerah ataupun berkebaya untuk memperingati hari Kartini. Ketika sudah bekerja pun ternyata ada juga perusahaan yang mewajibkan karyawatinya untuk mengenakan pakaian daerah dalam memperingati hari Kartini. Hari ini saya kembali membaca berbagai peringatan hari Kartini di tanah air, dan budaya memakai pakaian nasional ataupun berkebaya masih juga dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Kartini ini.

Saya sedikit merenung tentang budaya wajib berkebaya atau memakai pakaian nasional bagi perempuan di hari Kartini. Haruskah peringatan kebangkitan emansipasi para perempuan Indonesia ini dirayakan dengan berkebaya/berpakaian nasional? Makna apa yang tersirat dalam berpakaian seperti itu? Apakah generasi mendatang akan tahu makna sebenarnya dari sebuah perjuangan kebangkitan emansipasi perempuan dengan memakai pakaian khusus di hari itu?

Sebuah renungan dengan pertanyaan yang menggelitik hati saya di hari Kartini ini....

Monday, March 03, 2008

Emma...

Emma ini bukanlah nama dari seorang gadis cantik, atau putri mungil yang lucu, melainkan nama dari angin ribut yang datang menyapa kami di wilayah Eropa akhir minggu kemarin. Ramalan akan datangnya angin ribut ini sudah disebarkan kepada masyarakat sejak beberapa hari sebelumnya. Perkiraan kecepatan angin yang datang mencapai 90 km per jam. Kami pun akhirnya memilih untuk tinggal di rumah akhir minggu ini untuk berlindung dari angin ribut yang akan datang menyapa wilayah kami.

Sejak sabtu pagi, ramalan datangnya 'Emma' menjadi kenyataan. Perlahan-lahan gemuruh angin mulai terdengar. Nging...nging....angin yg bertiup dan berputar terdengar semakin jelas. Suara itu terus berlanjut dan semakin keras. Lama kelamaan bunyi yang terdengar pun semakin beragam bukan hanya suara angin yg semakin keras saja, tetapi juga suara dari beberapa krei rumah yang mulai rusak tertiup angin.

Ketika angin sedikit mereda, saya dan suami membuka pintu teras untuk mengemas kursi-kursi teras, serta pot-pot bunga yang berjatuhan. Di luar kami liat banyak kursi, meja, dan juga pot-pot bunga berserakan karena berterbangan, entah dari mana asalnya barang-barang itu.

Ketika kami sibuk membereskan kursi-kursi teras, tak lama kemudian Emma ini kembali datang menyapa kami lagi..wuih.....saya merasa terbawa terbang, terlebih badan saya memang kelas ringan....:-)....dengan kuat saya pegang tiang beton yang ada di teras rumah kami.... Segera kami kembali masuk ke dalam rumah. Angin terus bertiup dengan kencang, dan kami memilih tidak lagi keluar rumah.

Dari berita lokal yang kami ikuti ternyata kecepatan Emma bukan lagi 90 km per jam seperti perkiraan, tetapi mencapai 200 km per jam. Banyak korban berjatuhan ketika Emma datang menyapa wilayah eropa ini...

Menjelang sore hari Emma pun mulai mereda, dan awan hitam pun bergerak. Langit terlihat sedikit lebih cerah. Hujan pun mulai turun, dan diikuti oleh butiran-butiran salju yang menyapa bumi.....

Ketika cuaca sudah terlihat kembali normal dan matahari bersinar dengan cerah, kami pun penasaran untuk melihat sekeliling tempat tinggal kami. Akhirnya kami keluar rumah sambil mengamati keadaan...Banyak kerusakan yang terjadi. Dan yang menakjubkan jalan-jalan dan trotoar di sekitar rumah kami benar-benar bersih.....daun-daun tersapu bersih oleh angin, dan tercuci oleh hujan dan salju....

Betapa kuasanya Allah sang pencipta....

Munich, 1 Maret 2008.