Sebuah Pelajaran Kehidupan
Artikel ini dimuat di:
http://wrm-indonesia.org/kumpulan-artikel/renungan/sebuah-pelajaran-kehidupan.html

Beberapa waktu lalu saya harus melakukan operasi tangan. Setelah operasi itu selesai dilakukan, selama 2 minggu tangan kanan saya harus di perban dan dibungkus rapat dengan sebuah papan keras serta tidak boleh dipergunakan agar pemulihannya dapat berjalan baik dan tidak mengalami komplikasi yang justru akan membuat penyembuhannya menjadi semakin lama dan juga membahayakan tangan saya itu.
Dengan kemampuan tangan yang terbatas, karena biasanya saya melakukan segala sesuatu dengan dominan tangan kanan, tetapi kini harus memakai tangan kiri yang ternyata memang sungguh sulit untuk memulainya.
Kehidupan yang jauh dari tanah air membuat saya sempat bersedih hati pula. Karena biasanya kalau di tanah air akan selalu ada banyak kemudahan seperti adanya banyak handai taulan, mulai dari orang tua, kakak-adik,keponakan, sepupu dan masih banyak lagi yang selalu siap sedia menolong dan datang ke rumah membantu.
Disini, di tempat yang sangat jauh dari tanah air kemudahan itu agak sulit didapat.
Di tanah air kita masih bisa jajan makanan kalau tidak masak, bahkan tidak sedikit tukang jajan yang mendatangi rumah kita, disini …hmm…tidak pernah ada tukang jajan keliling satupun yang pernah saya lihat selama tujuh tahun lebih tinggal di negara ini.
Waktu terus bergerak, kehidupan keseharian pun terus berjalan. Tidak ada lagi kesempatan untuk bermanja dan mengeluh. Tantangan dalam hidup ini harus terus dihadapi dan dijalani. Akhirnya dengan hanya satu tangan, saya pun berusaha beraktivitas seperti biasa.
Terlintas dipikiran saya, bagaimana dengan saudara-saudara saya yang hanya mempunyai satu tangan bahkan ada pula yang tidak mempunyai tangan selama hidupnya? Entah itu karena kecelakaan, ataupun cacat sejak lahir. Mereka lebih menderita daripada saya. Mereka lebih sedih, tetapi kehidupan tetap mereka jalani. Betapa hebatnya mereka!
Dari kaku beraktivitas dengan menggunakan tangan kiri, akhirnya saya terbiasa beraktivitas dengan satu tangan ini. Mulut, kaki, anggota tubuh lain pun menjadi lebih aktif membantu saya beraktivitas. Allah memang maha kuasa, dia menciptakan tubuh manusia dengan perhitungan yang hebat. Bila satu anggota tubuh tidak berfungsi, anggota lain dapat membantu menggantikan fungsinya. Tinggal bagaimana manusia itu menghadapi kekurangannya dan berusaha dengan semangat menjalankan kehidupannya.
Kedua anak saya yang manis pun merupakan sebuah anugrah yang memang tiada taranya. Mereka walaupun masih kecil selalu berusaha membantu saya dalam aktivitas sehari-hari. Mereka selalu memperhatikan ketika saya menahan rasa sakit dari jahitan yang masih terasa. Mereka pun menghibur saya.
Ketika saya tidak mampu membuka sebuah tutup botol yang sebenarnya dalam keadaan normal sangat mudah sekali dilakukan tetapi dengan tangan satu ini saya tidak mampu melakukannya. Anak-anak menawari diri untuk membantu dan mereka berhasil membukanya. Mereka bersorak gembira karena dapat membantu.
Keributan-keributan kecil dari pertengkaran mereka berdua yang biasa terjadi tiba-tiba menghilang. Sang Kakak dengan kesadarannya sendiri membantu menghandle adiknya yang masih kecil, mulai dari mengkontrol adiknya sikat gigi hingga mandi dan masih banyak lagi aktivitas lain yang dibantunya. Sang Adik pun menjadi lebih mandiri. Hmm..mereka belajar menjadi lebih mandiri lagi dan lebih kompak...
Kehidupan memang selalu bergerak, baik itu naik maupun turun. Ketika kebahagiaan datang kita sebaiknya harus selalu ingat akan batasnya dan tidak lupa diri. Ketika kesusahan menyapa, kita pun harus bersemangat untuk menghadapinya dan berusaha mengatasi. Sebuah kehidupan yang penuh dengan pelajaran. (Nieza Graha)
Munich Mai 2007
Nieza Graha

3 Comments:
Skarang udah sembuh total ya Niez?
alhamdulilah,......
Operasi kapan? Skarang dah kembali sehat kan?
tangannya kenapa niez?
cepet sembuh aja yaa...
Post a Comment
<< Home