Ramadhan dan Pelajaran
Tidak terasa Ramadhan sudah berjalan 25 hari. Waktu ini ternyata berjalan begitu cepat. Bulan yang penuh pengampunan, bulan yang penuh hikmah ini akan segera berakhir.
Bulan Ramadhan tahun ini adalah bulan yang benar-benar terasa sangat istimewa sekali. Banyak anugrah Allah yang telah dilimpahkan kepada kami dan banyak pula pelajaran istimewa yang kami petik.
Sebagai seorang ibu, aku mendapati Azizia putri sulungku sudah mempunyai kesadaran berpuasa yang baik, alhamdulillah ya Allah!.
Kejutan yang dia berikan sampai hari ke 25 ini sangat banyak sekali. Salah satunya adalah puasanya yang tidak tinggal sehari pun sampai hari ini dan sholat lima waktunya yang baik.
Awalnya kami, aku dan suami tidak memaksakan Kakak Azizia untuk berpuasa sampai Magrib.
Kami memberikan pengertian kepadanya dan memberikan kebebasan kepada dia untuk berpuasa sekuatnya,karena kebetulan tahun ini puasa di Eropa agak lebih panjang dari puasa di tanah air. Dimana awal-awal puasa, magribnya hampir jam 8 malam.
Hari pertama puasa Kakak sempat merasa capek dan letih sekali tetapi dia berusaha mengatasinya dengan tidur siang, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukannya.
Beberapa hari kemudian, Azizia berkata kepadaku:..''Ma, sekarang puasanya tidak terasa capek lagi deh...Kakak sudah biasa puasanya...Rasanya enak Ma. Kemarin-kemarin kakak capek karena baru puasa dan belum biasa...''
Alhamdulillah sulungku sudah mulai merasakan bagaimana tidak memberatkannya berpuasa.
Untuk anak seusia Azizia memang banyak sekali godaan yang datang. Di kelasnya tidak ada satupun anak yang berpuasa kecuali dia, teman-temannya makan dan minum seperti biasa saja karena memang mayoritas non muslim.
Alhamdulillah dia bisa mengatasinya.
Khalisha yang masih kecil pun terkadang berpuasa, walaupun hanya sampai sebatas jam 10 pagi kalau akhir minggu. Bungsu yang kecil ini kalau hari sabtu minggu tidak mau makan dan minum dengan alasan puasa. Tetapi itu tidak berlangsung lama, jam 10 pagi pun dia akan segera mencari makanan ke dapur, karena perutnya sudah tak tahan lagi. Di waktu berbuka dia pun akan sibuk mengingatkan kakaknya....''Kak sudah malam, sekarang kakak boleh makan dan minum lagi...''
Alhamdulillah Khalisha belajar berpuasa.
Alhamdulillah anak-anak belajar menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, sebuah anugrah besar yang Allah berikan kepada kami sebagai orangtua.
Puasa jauh dari tanah air memang agak berbeda. Panggilan Adzan yang berkumandang dan sholat taraweh berjamaah di mesjid sangat kami rindukan.
Allah memang maha penyayang, kerinduan kami bisa terobati, panggilan Adzan dari komputer setiap hari selalu terdengar, mengajak kami untuk segera melakukan sholat, dan di bulan Ramadhan ini memberitahukan kami waktunya berbuka puasa.
Sholat Taraweh berjamaah pun kami lakukan di rumah dengan sang ayah sebagai Imam.
Di tanah air, menjelang sahur akan selalu ramai, dimana banyak orang membangunkan dengan bedugnya yang berkeliling komplek, ataupun memukul-mukul tiang listirk sambil berteriak sahur-sahur! sebuah tradisi ramadhan di komplek kami di tanah air.
Disini tradisi seperti itu tidak ada, saatnya sahur hanya gelap dan kesunyian yang ada.
Pernah kami terlambat bangun sahur suatu hari, dan berita ini sampai ke tanah air. Semenjak itu kami pun mempunyai pembangun setia setiap hari, yaitu Kak Eva yang selalu menelpon membangunkan kami...terima kasih kak!
Alhamdulillah kami tidak telat lagi sekarang.
Dahulu Mamaku sibuk menyiapkan santap berbuka dan sahur untuk keluarga, agar kami makan makanan yang bergizi dan sehat.
Kini pun aku merasakan bagaimana situasi seperti mamaku dulu. Aku harus menyiapkan makanan yang bergizi dan sehat kepada keluarga agar mereka dapat beribadah puasa dengan baik dan tubuhnya tetap terjaga agar selalu sehat dan kuat.
Banyak hikmah dan pelajaran yang aku dapatkan di bulan suci ini. Insya Allah, Allah dapat memberikan kesempatan kepadaku untuk menemui bulan Ramadhan tahun depan. Bulan yang penuh ibadah dan ampunan. Amien..
Munich 7 Oct.2007
Nieza Graha

0 Comments:
Post a Comment
<< Home