Fantasi
Siang itu saya menjemput Khalisha yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak. Dengan wajah gembira dia menyambut kedatangan saya dan mengajak saya segera ke papan galery yang berada di depan kelasnya. ‘’ Mama, lihat pohon Apel yang Khalisha buat, bagus ya …’’, ungkapnya dengan penuh kebanggaan. Saya yang melihat gambar itu sedikit tertegun, dan kemudian sifat perfeksionis saya yang kental pun dengan segera mengomentari hasil karyanya itu. ‘’Bagus sekali nak, tapi kok warna daun pohon Apelnya ungu, dan batangnya berwarna merah muda?. Setiap pohon kan daunnya hijau dan batangnya agak kecoklatan. Coba deh Khalisha lihat di luar sana’’, ungkap saya.
Si bungsu yang baru berumur 4 tahun itu pun dengan wajah polosnya menjawab,’’ Itu kan fantasi Mama, saya boleh mewarnai pohon semau saya karena saya punya fantasi..’’
***
Setelah menjemput Khalisha, kami pun melaju menjemput Azizia sang kakak yang sudah sekolah di kelas 3 SD. Begitu Azizia masuk mobil, Khalisha ‘mengadu’ ke sang Kakak. ‘’Kak, masak Mama tidak tahu apa itu fantasi Kak...’’, adunya ke sang Kakak. ‘’Kenapa memangnya?’’, tanya sang Kakak. ‘’Iya tadi Khalisha kasih tahu gambar Khalisha pohon apel yang berbuah, daunnya berwarna ungu, serta batangnya berwarna pink, kata Mama kalau daun harus berwarna hijau. Kan bisa daun pohon apel warnanya ungu ya Kak...’’ , kembali si bungsu mengadu ke Kakaknya.
‘’Memang iya begitu Ma?, tanya si Sulung sambil menoleh ke saya menuntut penjelasan. ’’Iya nak, betul kan kalau menggambar daun harus berwarna hijau, lihat deh pohon apel di pinggir-pinggir jalan itu, pasti daunnya berwarna hijau’’, jawab saya dengan penuh percaya diri.
‘’Ma, kalau gambar kan tidak harus selalu sama. Kalau harus sama terus membosankan Ma’’, sanggah Azizia mendukung pendapat adiknya. ‘’Lihat deh Mama gambar-gambar Otmar Alt, Kandinsky, Paul Klee penuh fantasi dan tidak membosankan’’, jelas sulungku yang memang sangat antusias sekali terhadap dunia seni lukis. ‘’Kakak juga senang gambar fantasi, kuda yang ada sayapnya berwarna biru dan bisa terbang, ikan Delfine yang ada mahkotanya dan pakai lipstik merah tebal, wah... asyik sekali gambar kita tidak ada yang samain....’’, ungkap sang kakak dengan penuh semangat.
***
Fantasi, sebuah kata yang hari itu menjadi tema dalam percakapan saya dengan anak-anak, membuat saya pun termenung dan berpikir. Tanpa kita sadari terkadang dunia anak-anak yang penuh fantasi sering diganggu oleh perfeksionisme kita para orangtua. Ketika anak-anak menggambar corat-coret yang sesuai dengan imajinasinya banyak orang tua yang memprotesnya, bahkan tidak sedikit orangtua yang mengomentari dengan kata-kata yang cukup pedas..’’Gambarnya seperti benang kusut...apa artinya tuh?; Kok rumahnya besar pintunya kecil sekali seperti lubang tikus, itu tidak bagus!; Masak sepeda ada sayap?...ada-ada saja; Dan masih banyak lagi komentar-komentar orangtua yang sering membuat anak menjadi berkecil hati, merasa bersalah atas fantasi yang mereka miliki.
Banyak orang tua melihat dunia ini dengan persepsi yang dimilikinya saja, dan repotnya, kita sebagai orang tua sering merasa bahwa persepsi kitalah yang paling benar. Ketika orang tua melihat hasil karya anak, tidak sedikit orang tua yang memandang dengan persepsi orang dewasa, akibatnya bukan mendukung fantasi anak kita malahmencela. Padahal fantasi ini memberi warna-warni tersendiri dalam kehidupan ini.
Fantasi dalam dunia anak-anak adalah sebuah proses belajar dan pengembangan otak mereka untuk berimajinasi dan berkreasi; mengeluarkan berbagai ide yang ada di kepalanya. Dapat dibayangkan bagaimana dulu Orville Wright dan saudaranya Wilbur Wright berfantasi untuk bisa terbang dan akhirnya bisa menciptakan pesawat terbang, Rudolf Diesel berfantasi dengan mesin yang akhirnya bisa menjadi penemu Diesel, dan masih banyak fantasi hebat lainnya yang ternyata membuahkan berbagai gagasan cemerlang , gagasan yang mempermudah hidup kita di zaman modern.
Bayangkan jika semua harus sesuai dengan aturan dan orang dilarang keras untuk berfantasi. Apa jadinya dunia ini?
Jika kita sedikit saja mencoba melihat karya anak dari kacamata mereka, kita akan hanyut dalam sebuah dunia indah tidak terbatas. Kombinasi warna hasil corat-coret anak ternyata mempunyai daya pikat tersendiri. Lihat saja karya-karya Affandi, sang Maestro yang berhasil mempesona dunia dengan goresan abstraknya.
Hasil karya sederhana anak menggambarkan betapa beningnya dunia mereka. Pikiran si kecil penuh dengan ide-ide segar yang mungkin luput dari pemikiran orang dewasa. Belum lagi permainan yang sarat imajinasi. Ada-ada saja akal mereka. Boneka beruang kesayangannya bisa menjadi murid yang patuh, sementara si kecil berperan sebagai seorang guru. Atau boneka itu menjadi pasien yang batuk pilek, selagi anak membayangkan dirinya menjadi seorang dokter.
Sofa di ruang tengah dapat menjadi kapal pesiar mereka, keranjang pakaian di dalam kamar dapat menjadi kotak harta karun mereka, kolong dibawah tempat tidur dapat menjadi gua persembunyian mereka berpetualang, panci di dapur dapat menjadi alat musik favorit mereka. Begitu luasnya mereka menjelajah, seakan keempat dinding rumah yang kokoh pun tidak mampu membatasinya.
Dunia anak memang tidak pernah sepi dengan fantasi. Dengan berfantasi anak melatih daya pikir. Dan ketika mereka melakukan sesuatu yang berbed, itulah yang disebut kreativitas.
Saya baru sadar, apa yang dilakukan Khalisha, mengganti warna daun dengan warna ungu, adalah sebuah bentuk kreativitas. Inilah buah dari fantasinya.
Saya jadi malu. Ah..saya rasa tiba saatnya saya sebagai orangtua belajar untuk memahami sekaligus menghargai fantasi anak. Mengapa pula saya harus menuntut kesempurnaan dari mereka?
Munich, Sept. 2008
Chairinniza K. Graha
Penulis.
Dimuat di Majalah Parenting Indonesia
Edisi Januari 2009.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home